Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaa Boosss...

Abjad Pertama Judul Tulisan
G M S T U semuanya Daftar
12 16
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:09:44
oleh: Idham P 171 TL

Catatan perjalanan Idham Firmantara (P 171 TL), anggota Mapala Proklamator Univ. Bung Hatta yang juga reporter TV swasta Jakarta, selama mengikuti operasi SAR Heli Polda Sumbar di Bukit Sigiriak.

Lama menunggu evakuasi, semua mayat belum juga berhasil dikeluarkan. Ponco untuk membungkus mayat juga sudah habis. Aku berembuk bersama Arset SCTV, Nursyifman Tanjung RCTI, Mardi radio Mentawai dan beberapa personil lain. Rupanya ada beberapa warga sekitar hutan ini yang akan turun juga termasuk personil polisi dan Brimob yang turun untuk mengambil perlengkapan, terutama makanan. Maka kami putuskan untuk turun agar gambar yang diambil ini bisa tayang buat Cakrawala malam di ANTV.

Seorang pemuda memakai golok menuntun kami turun. Awalnya jalan lancar saja dan enak untuk turun. Matahari tinggal sejengkal lagi sampai di peraduannya. Sepuluh menit jalan kaki, tiba-tiba cuaca benar-benar gelap. Penerangan hanya memakai lampu HP.

Kami bertemu dengan tim pertama turun di sebuah penurunan terjal. Rupanya mereka salah jalan dan menemukan jalan buntu. Kami bertemu lagi dengan teman kami, Bonar Harahap yang selalu mengajak kompak dan tidak berpisah. Hujan semakin lebat, lengkap dengan kabut putih semakin menebal. Waktu menunjukan pukul 17.40 wib. Aku sangat kedinginan dan kelaparan yang teramat sangat. Saat itu terbayang enaknya makan gulai ikan panas di warung Turagari langganan kami. Warga sebagai guide kesulitan membuka jalan buat timnya. Di lereng punggungan ini kami lama terhenti dan terus menggigil.

Bonar Harahap yang biasa memanggil saya Opung, mendekat. "Kita kompak-kompak ajaa puuung..." ujarnya. Bagus itu jawabku, bukankah dari awal kita sudah bersama, jawab ku sedikit kesal karena dia pergi tanpa pamit. Mungkin maksudnya ingin mendahului kami agar bisa tayang lebih cepat. Akhirnya sang guide local memutuskan membawa timnya kembali ke puncak punggungan dan mencari jalan alernatif lain untuk menuju lembah.

Dibawah lembah, sayup-sayup desiran air Batang Lubuk Paraku terdengar. Kami terus mencari jalan alternatif agar bisa ke lembah itu. Hari sudah sangat gelap. Antrian ini sepanjang dua puluh lima meter. Kembali menerabas akar dan tumbuhan perdu dalam gulita. Jalan kedua ini sungguh terjal dengan kemiringan mencapai 90 derajat. Satu persatu personil ini turun yang didahului oleh penduduk lokal. Dia harus memainkan parang dalam gelap dan beberapa kali memutar arah untuk mencari jalan landai.

Malangnya, kami harus menuruni dinding batu dengan keterjalan 90 derajat. Harus antri dan hanya mengandalkan akar pohon untuk turun kebawah. Bagi yang tidak membawa beban tak masalah, tapi kami harus menjaga kamera tercnta ini dari benturan.

Saya hidupkan lampu Handphone, cukup untuk melihat jalan sejauh satu meter. Lumayan. Perlahan sambil memegangi akar saya dan Mardi turun. Untung ditengah tebing batu ini tumbuh sebuah pohon yang cukup kuat buat dipijak untuk dua orang.

"Amaan... turun satu lagi" teriak ku. Nursyifman Tanjung turun perlahan dan sampai di pohon. Aku terus berusaha turun kebawah, tapi kaki ini belum juga menginjak tanah. Sekuat tenaga saya pegang akar pohon ini. Saya lihat Nursyifman juga berusaha mengikuti jejak saya. "Naik lagi... masih jauh..." Ujarku khawatir kalau dia jatuh menimpa ku.

Tiba-tiba Nursyifman memekik. "Jangan turun.. nanti jatuh... naik lagi... ini bahu saya di injak" bentaknya sambil menahan sakit. Rupanya Opung kita ini juga melorot turun tanpa memberi tahu. Karena tak ada pijakan lagi, terpaksa bahu Nursifman jadi pijakannya dan tangan saya kaki sebelah lagi. Kalau dia jatuh bisa berabe juga.

Aku teramat cemas kalau jatuh, entah berapa meter lagi di bawahnya. Sekuat tenaga ku pegang akar pohon ini. Mardi memegang pinggang dan mengamankan ransel. "Maaf... maaf..." tutur Bonar Harahap sambil berusaha naik. Saya berusaha berdiri di cerukan dekat Mardi.

Aku lepaskan nafas sambil berteriak. Seakan lepas dari lubang jarum. Tangan terasa sangat panas dan pegal. Saya bantu Nursyifman berdiri disamping saya. Suara terabas parang masih terdengar. Kami masih berkutat turun.

Bonar juga turun bersama Arset dan kami bantu pula. Arset memutuskan untuk terus turun ke bawah dengan memakai akar pohon. Dia meraba dan menggunakan insting. Kira-kira kami berada tiga meter di dari lembah. Bonar juga ikut Arset turun ke bawah.

Kami bertiga, Nursyifman, Mardi memutuskan tetap tinggal di celah ini menunggu pagi. Pakaian kami basah kuyup. Mulut saya terasa asam. Saya ingin merokok tapi gak ada. Untuk menghangtkan badan kami saling merapat bertiga.

"Bagaimana di bawah, aman Set?" jerit ku. Bonar dan Arset duduk berdua dan aman. Sementara personil lain juga sudah istirahat. Yang membawa rokok mulai merokok. Aku hidupkan HP tapi sinyal gak ada. Jam di HP terlhat 20.30 WIB. Mardi berusaha menelpon dan bisa.

Dia tersambung dengan Aldian reporter SCTV dan mengatakan kami tersesat dan terjebak di sebuah lembah. Dari tempat kami duduk terlihat tower dan Rest Area. Mardi juga berusaha mengontak teman-temannya di Mapala Unand dan mengatakan kami aman namun tersesat. Kalau ada yang sangup naik menyusuri Lubuk Paraku tolong jemput. Tapi hal ini jelas tak mungkin.

Aku putuskan tidak meminjam HP Mardi untuk mengabarkan kondisi saya ke kantor ANTV Jakarta maupun kepada keluarga dirumah. Karena bisa membuat mereka panik dan di Jakarta bisa jadi bahan olok-olok.

Di kejauhan kami melihat lampu tower Rest Area Taman Hutan Raya Bung Hatta bersinar terang. Di sana ada kehidupan. Pasti di sana banyak makanan, selimut hangat, kopi panas, rokok. Saya sempat berhalusinasi. Alangkah nikmatnya disana. Sementara kami disini lapar dan kedinginan. Teman-teman kini jelas menunggu gambar yang kami ambil.

Kami bertiga mengatur posisi tidur agar aman. Saling berpegangan. Kami memutuskan tidur di celah ini agar terhindar dari terpaan angin, hujan dan kabut lembah. Saya berada ditengah, dikiri Nursifman dan kanan saya Mardi.

Detik-demi detik kami lalui. Waktu berjalan lamban, selamban kabut hutan yang terus melayang. Satu persatu embun jatuh membahasahi badan kami. Pikiran saya melayang jauh. Ransel kamera saya dekap erat pengusir dingin. Aku ingat tahun 1997 lalu, saat hilang beberapa hari di hutan gunung Talang kabupaten Solok karena di sungkup kabut gunung. Kami kehabisan makanan tetapi masih bisa menahan dingin karena membawa peralatan dan perlengkapan pendakian. Tapi kali ini tidak.***

Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaa Boosss... oleh Idham P 171 TL

Artikel Catatan Perjalanan Lain

Menyelam, Membuat Rumah Ikan...
oleh Indrawadi
Jumat 22 Desember 2006 - 15:37:02
Al-Jum'a, 1 Dhul Hijja 1427 H - 15:37:02
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Penyesalan Tak Berguna
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:10:22
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:10:22
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kamera pun di "Perkosa"
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:08:36
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:08:36
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaaaa...
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:04:22
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:04:22
Tragedi MI-2+ Call Sign P-5004 Polda Sumbar
oleh P 211 RG
Minggu 11 September 2005 - 20:39:18
Al-Ahad, 7 Sha'ban 1426 H - 20:39:18
Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang Dengan Ban Bekas
oleh Indrawadi
Rabu 29 Juni 2005 - 21:36:08
Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:36:08
Menjelajahi Negeri Bawah Air Kota Padang
oleh Indrawadi
Rabu 29 Juni 2005 - 21:16:37
Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:16:37
Gunung Talakmau (3.005 mdpl)
oleh Gufron P 158 GP
Sabtu 11 Juni 2005 - 21:37:14
As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:37:14
Gunung Singgalang (2.877 mdpl)
oleh Gufron P 158 GP
Sabtu 11 Juni 2005 - 21:35:29
As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:35:29
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru
oleh May Wellyansyah
Jumat 29 April 2005 - 22:08:34
Al-Jum'a, 20 Rabi Al-Awwal 1426 H - 22:08:34